Senin, 12 Mei 2014
Rabu, 05 Februari 2014
Pengolahan Gula Menjadi Tebu
- Ekstraksi Nira
- Penjernihan
- Penguapan
- Kristalisasi
- Pemisahan kristal
- Pengeringan
- Pengemasan
- Penyimpanan
a. Ekstraksi nira adalah proses pemerahan cairan tebu (nira) dari batangnya dengan menggunakan gilingan yang terbuat dari kayu atau dari logam.
b. Penjernihan nira
Nira mentah sebagai hasil dari bagian ekstraksi masih banyak mengandung bahan-bahan yang larut, tidak larut, dan kolodial.
- Larut : gula, gula reduksi, kation K, Ca, Mg, Fe, Al, yang terikat oleh asam anorganik/ organik
- Koloidal : tetes, putih telur, zat warna, senyawa oleh besi, aluminium
- Tidak larut : pasir, tanah, ampas halus
Maksud penjernihan nira adalah untuk memisahkan sebanyak mungkin kotoran (zat-zat bukan gula) dalam nira hasil ekstraksi, dengan tanpa merusak gula.
Nira mentah yang berasal dari tebu muda, sangat masak, mati atau terbuka, mengandung lebih banyak putih telur, gula reduksi, dan asam-asam, sehingga menyulitkan jalannya penjernihan.
Di Indonesia ada tiga proses penjernihan yang umum dilakukan, yaitu
- cara defekasi,
- cara sulfitasi, dan
- cara karbotasi.
Cara Defekasi
Merupakan cara tertua dan juga paling sederhana. Dalam proses ini digunakan bahan pembersih utama berupa kapur. Kapur diberikan setelah nira netral, akan terbentuk endapan yang dapat dipisahkan dengan cara penyaringan. Gula yang dihasilkan dari proses penyaringan dengan cara defekasi adalah gula tanjung atau HS (hoofd suiker).
Cara Sulfitasi
Dalam proses ini digunakan bahan penjernih berupa kapur tohor. Selain itu, juga digunakan gas sulfit yang diperoleh dari hasil pembakaran belerang. Zat sulfit digunakan untuk menetralkan kelebihan kapur yang diberikan secara berlebihan dalam proses ini. Ca sulfit yang kemudian terbentuk akan turut membantu mengefisienkan pembersihan kotoran. Gula yang dihasilkan dari proses penjernihan cara sulfitasi adalah gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Suiker).
Cara karbonatasi
Bahan pembersih yang digunakan dalam cara ini adalah kapur dan gas CO2, Gas CO2 diperoleh dari pembakaran batu kapur. Berbeda dengan cara di atas, cara karbonatasi menggunakan kapur yang lebih banyak. Untuk menetralkan kelebihan kapur tersebut digunakan asam karbonat, yaitu hasil dari reaksi gas CO2 dan air. Endapan yang terbentuk dari proses ini (CaCO3) akan menyerap pula bahan-bahan yang bukan gula lainnya. Dengan demikian, penjernihan terjadi lebih efisien. Gula yang dihasilkan dari cara karbonatasi adalah gula putih atau SHS I.
c. Penguapan
Cairan tebu (nira) yang sudah jernih masih banyak mengandung air. Sebagian besar air dalam nira ini dihilangkan dengan cara penguapan (evaporasi).
Penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa evaporator yang biasanya terdiri dari rangkaian 4-5 bejana yang bekerja secara berkesinambungan. Uap yang dihasilkan dari satu bejana sebagai uap pemanas bejana berikutnya.
Dalam bejana nomor 1, nira diuapkan dengan menggunakan bahan pemanas uap bekas, secara tidak langsung. Uap bekas ini terdapat dalam sisi ruang uap. Dan nira yang diuapkan terdapat dalam pipa-pipa nira dari tromol uap. Dari sini, uap bekas yang mengembun dikeluarkan dengan kondenspot. Dalam bejana nomor 2, nira dari bejana nomor 1 diuapkan dengan menggunakan uap nira dari bejana penguapan nomor 1. Kemudian uap nira yang mengembun dikeluarkan dengan michaellispot. Di dalam bejana nomor 3, nira yang berasal dari bejana nomor 2 diuapkan dengan menggunakan uap nira dari bejana nomor 2. Demikian seterusnya, sampai pada bejana penguapan terakhir. Nira pada bejana terakhir merupakan larutan hampir jenuh dengan kepekatan sekitar 60% brix. Uapnya dibuang ke kondensor sentral dengan perantaraan pompa vakum.
d. Kristalisasi
Pada tahap ini digunakan pan vakum yaitu tempat di mana nira pekat hasil penguapan dipanaskan terus-menerus sampai mencapai kondisi lewat jenuh, akan terbentuk kristal. Pengkristalan terjadi dari sebagian sukrosa yang semula larut, kemudian memisahkan diri dan membentuk kristal.
Kristalisasi dilakukan secara bertahap, agar proses pengaliran tidak sulit dan untuk mencegah terjadinya karemelisasi dan terbentuknya kerak akibat pemanasan terus-menerus. Setiap pan menghasilkan masakan yang disebut masekuit, yaitu suatu larutan yang sangat pekat dan banyak mengandung kristal-kristal gula. Masekuit ini lalu didinginkan dalam palung pendingin yang terdapat di bawah setiap pan. Tujuan pendinginan masakan adalah mengusahakan agar proses kristalisasi terus berlanjut dengan semakin dinginnya masakan. Seperti kita ketahui, dalam suhu rendah tingkat kelarutan gula akan menurun. Agar molekul-molekul sakrosa yang larut dapat menempel pada bidang permukaan kristal yang telah ada, maka selama pendinginan harus dilakukan pengadukan
e. Pemisahan Kristal Gula
Dalam palung pendingin, masekuit masih berupa larutan dengan banyak kristal sukrosa di dalamnya. Kristal – kristal ini harus dipisahkan dari saluran yang menyertainya. Pemisahan kristal dapat dilakukan dengan menggunakan saringan yang bekerja dengan gaya sentrifugal. Dari palung pendingin, larutan dialirkan ke saringan pemisah kristal (puteran), karena alat yang biasanya berupa tromol ini dapat bergerak berputar. Hasil dari proses pemisahan kristal adalah kristal gula dan molasse (tetes).
f. Pengeringan, Pengemasan, dan Penyimpanan
Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira 20%. Gula yang mengandung air akan lebih mudah rusak dibandingkan gula kering. Untuk menjaga agar tidak rusak selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kira-kira 80oC.
Pengeringan gula secara alami dilakukan dengan melewatkan gula SHS pada talang goyang yang panjang. Dengan melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan dingin. Untuk proses pengeringan, cara ini membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan cara pemanasan. Karena itu, pabrik-pabrik gula lebih banyak menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja atas dasar prinsip aliran berlawanan dengan aliran udara panas pengering.
Selasa, 04 Februari 2014
Sabtu, 19 Oktober 2013
Kunci Kesehatan
Tahukah Anda?
- 90% sumber penyakit berasal dari sistem pencernaan yang kotor dan tidak berfungsi dengan baik.(Dr. Harvey W. Kellog)
- Penyebab mayoritas penyakit bukan bakteri, melainkan toksin yang berasal dari proses fermentasi sampah sisa makanan yang mengendap pada usus. (Dr. Henry Beyler)
- Jika setiap orang menjaga kebersihan ususnya maka 95% klinik kesehatan akan tutup akibat kekurangan pasien.(Dr. Norman Walker)
- Jenis makanan dan keadaan saluran pencernaan berhubungan erat dengan timbulnya tumor entah jinak atau ganas dan lebih jauh lagi berhubungan dengan semua penyakit yang sudah muncul mau pun yang belum muncul. (Dr. Hiromi Shinya)
- Sampah pencernaan yang tidak terbuang selain menghambat daya serap nutrisi juga dapat menghasilkan toksin yang mengakibatkan kerusakan sel-sel jaringan tubuh. (Dr. Deby Vinski, AAMS)
Usus besar adalah bagian akhir dari sistem pencernaan yang sesungguhnya telah menjadi masalah paling serius yang mengancam kesehatan. Usus besar layaknya tong sampah yang menampung sisa makanan lalu dihancurkan melalui proses pembusukan oleh bakteri.
Kebiasaan makan tidak baik seperti mengunyah terburu-buru, lebih dominan daging dan kurangnya komposisi serat pada makanan menyebabkan pembusukan sisa makanan terus meningkat hingga mampu menghasilkan 15 kg kotoran berupa kerak yang menumpuk bertahun-tahun pada dinding usus.
Sedikit demi sedikit menjadi semakin tebal, kaku dan menyempit hingga meningkatkan tekanan pada internal dinding usus.
Kotoran semakin sulit didorong keluar, hasilnya perut semakin membuncit akibat dari tinja yang terperangkap dan terus berdiam dalam usus besar untuk waktu yang lama.
Kebiasaan makan tidak baik seperti mengunyah terburu-buru, lebih dominan daging dan kurangnya komposisi serat pada makanan menyebabkan pembusukan sisa makanan terus meningkat hingga mampu menghasilkan 15 kg kotoran berupa kerak yang menumpuk bertahun-tahun pada dinding usus.
Sedikit demi sedikit menjadi semakin tebal, kaku dan menyempit hingga meningkatkan tekanan pada internal dinding usus.
Kotoran semakin sulit didorong keluar, hasilnya perut semakin membuncit akibat dari tinja yang terperangkap dan terus berdiam dalam usus besar untuk waktu yang lama.
Berbagai Masalah Yang Ditimbulkan:
Kotoran stagnan yang terkumpul dalam divertikula lalu berfermentasi menjadi toksin penyebab terjadinya mutasi genetis sel-sel pada area tersebut hingga menimbulkan polip. Polip-polip itu tumbuh dan berkembang, disinilah cikal bakal kanker usus bermula.
Pada tahap selanjutnya penumpukan kerak pembusukan sisa makanan terus meningkatkan produksi toksin hingga ikut masuk ke dalam darah bersama dengan penyerapan air di usus besar.
Toksin ini sangat membebani kerja liver, lambat laun fungsi liver melemah hingga tidak mampu menetralisir toksin. Toksin beredar keseluruh tubuh dan menimbulkan kerusakan sel-sel jaringan tubuh lainnya.
Lambat laun fungsi organ tubuhnya ikut menurun dan menimbulkan berbagai penyakit seperti stroke, jantung koroner, diabetes militus, maag, hypertensi, tumor, kanker payudara, prostat, gagal ginjal, pengerasan pembuluh darah dan lain sebagainya.
Fungsi liver melemah biasanya disertai keluhan seperti sesak nafas, detak jantung yang cepat dan tidak teratur, mudah lelah, gangguan pikiran, haid tidak teratur, insomnia dan perut membuncit. Efek pencernaan yang kotor akan tampak dari luar, seperti penuaan dini, kebotakan, kulit kendur, flek, keriput dan lemak bergelambir.
Pada tahap selanjutnya penumpukan kerak pembusukan sisa makanan terus meningkatkan produksi toksin hingga ikut masuk ke dalam darah bersama dengan penyerapan air di usus besar.
Toksin ini sangat membebani kerja liver, lambat laun fungsi liver melemah hingga tidak mampu menetralisir toksin. Toksin beredar keseluruh tubuh dan menimbulkan kerusakan sel-sel jaringan tubuh lainnya.
Lambat laun fungsi organ tubuhnya ikut menurun dan menimbulkan berbagai penyakit seperti stroke, jantung koroner, diabetes militus, maag, hypertensi, tumor, kanker payudara, prostat, gagal ginjal, pengerasan pembuluh darah dan lain sebagainya.
Fungsi liver melemah biasanya disertai keluhan seperti sesak nafas, detak jantung yang cepat dan tidak teratur, mudah lelah, gangguan pikiran, haid tidak teratur, insomnia dan perut membuncit. Efek pencernaan yang kotor akan tampak dari luar, seperti penuaan dini, kebotakan, kulit kendur, flek, keriput dan lemak bergelambir.
SOLUSI:
- Biasakan mengunyah makanan hingga hancur sebelum menelan. Vili usus manusia hanya dapat menyerap za-zat sebesar 15 mikron (0,015 mm) dan apa pun yang lebih besar dari ukuran itu akan diekskresikan menjadi sampah dalam usus.
- Tingkatkan asupan serat harian minimal 25 gram/hari atau setara dengan 400 - 500 gr buah dan sayuran/hari. Serat berfungsi untuk menghambat kerja enzim amylase tanpa merusak flora usus, membantu mengontrol kadar gula darah, meningkatkan kadar air dalam feses, mengikat asam empedu, toksin, dan mengencerkan senyawa karsinogen dalam usus.
Sumber GNT
Jumat, 18 Oktober 2013
‘Pemanasan’ dari Hadits Nabi
Jima’ adalah kebutuhan suami istri, bukan hanya salah satunya. Kepuasan dalam jima’ juga hak keduanya, bukan hanya milik suami. Mengingat kaum wanita umumnya lebih ‘dingin’ dan lama dalam proses pendakian menuju puncak, Islam mengajarkan para suami untuk tidak langsung memulai jima’ sebelum melakukan pemanasan.
Sedikitnya ada tiga langkah pemanasan yang bersumber dari hadits:
1. Kata-kata mesra
“Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra)” (HR. Ad Dailami)
Sebelum melakukan jima’, dahuluilah dengan kata-kata romantis. Kata-kata yang mesra. Rasulullah, di hari-hari biasa saja memanggil Aisyah dengan humaira, yang pipinya kemerahan. Betapa beliau sangat romantis, apalagi ketika hendak ‘bercinta’ bersama istri.
Kata-kata romantis dan mesra ini yang pertama akan mencairkan suasana dan membuat rileks. Tingkatan kata-kata yang lebih mesra selanjutnya akan membuat tubuh yang rileks mulai ‘memanas’ serasa dipanggil untuk tidak hanya bermain kata.
2. Ciuman
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)
Jika kata-kata melahirkan imajinasi dan emosi, maka ciuman lebih ‘terasa’ bagi istri. Detak jantung menjadi lebih cepat, nafas menjadi tak teratur, dan hasrat jima’ pun mulai timbul.
Dalam bab ini, ciuman tidaklah sebatas bibir bertemu bibir.
3. Sentuhan
Jika kata-kata mesra adalah pemanasan dengan ucapan dan ciuman adalah pemanasan dengan bibir, pemanasan yang lainnya adalah dengan tangan; sentuhan.
Imam Abu Hanifah ditanya oleh muridnya tentang suami yang memegang kemaluan istrinya atau istri memegang kemaluan suaminya (sebagai pendahuluan jima’), beliau menjawab, “Tidak masalah, bahkan saya berharap ini akan memperbesar pahalanya.” (Tabyin al-Haqaiq).
Demikian 3 Langkah ‘Pemanasan’ dari Hadits Nabi. Langkah kedua dan ketiga tidak harus berurutan. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
Sedikitnya ada tiga langkah pemanasan yang bersumber dari hadits:
1. Kata-kata mesra
“Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra)” (HR. Ad Dailami)
Sebelum melakukan jima’, dahuluilah dengan kata-kata romantis. Kata-kata yang mesra. Rasulullah, di hari-hari biasa saja memanggil Aisyah dengan humaira, yang pipinya kemerahan. Betapa beliau sangat romantis, apalagi ketika hendak ‘bercinta’ bersama istri.
Kata-kata romantis dan mesra ini yang pertama akan mencairkan suasana dan membuat rileks. Tingkatan kata-kata yang lebih mesra selanjutnya akan membuat tubuh yang rileks mulai ‘memanas’ serasa dipanggil untuk tidak hanya bermain kata.
2. Ciuman
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)
Jika kata-kata melahirkan imajinasi dan emosi, maka ciuman lebih ‘terasa’ bagi istri. Detak jantung menjadi lebih cepat, nafas menjadi tak teratur, dan hasrat jima’ pun mulai timbul.
Dalam bab ini, ciuman tidaklah sebatas bibir bertemu bibir.
3. Sentuhan
Jika kata-kata mesra adalah pemanasan dengan ucapan dan ciuman adalah pemanasan dengan bibir, pemanasan yang lainnya adalah dengan tangan; sentuhan.
Imam Abu Hanifah ditanya oleh muridnya tentang suami yang memegang kemaluan istrinya atau istri memegang kemaluan suaminya (sebagai pendahuluan jima’), beliau menjawab, “Tidak masalah, bahkan saya berharap ini akan memperbesar pahalanya.” (Tabyin al-Haqaiq).
Demikian 3 Langkah ‘Pemanasan’ dari Hadits Nabi. Langkah kedua dan ketiga tidak harus berurutan. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
Kamis, 10 Oktober 2013
La Ilaha Illallah....
Dari Khalid bin Ma’dan dari Abu Ruhm As Sama’i dari Abu Ayyub Al Anshari dari Nabisaw. bersabda: "Barang siapa yang ketika pagi hari mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LA SYARIKA LAHU LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYI WA YUMITU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR sebanyak SEPULUH kali maka Allah akan menulis untuknya setiap satu kali dia ucapkan dengan sepuluh kebaikan dan Allah akan mengangkat darinya sepuluh kesalahan dan Allah akan mengangkatnya dengan kalimat itu sepuluh derajat dan hal itu baginya seperti sepuluh pengawal yang menjaganya dari awal siang hingga akhir dan dia tidak melakukan suatu amalan pada hari itu yang mengalahkannya jika dia membacanya pada sore hari seperti itu. (HR. AHMAD – 22465)
Sumber: Wisata Hati Uztads Yusuf Mansur
Sumber: Wisata Hati Uztads Yusuf Mansur
Minggu, 06 Oktober 2013
KESEMUTAN
Sebenarnya, gejala stroke bisa dikenali sejak awal. Sehingga resiko kematian ataupun cacat akibat penyakit ini pun bisa ditangani sejak dini. Selama ini sudah banyak masyarakat yang mengenal stroke berat. Namun dalam dunia kedokteran, ada istilah stroke subklinis (gejala awal) yang merupakan fase penyumbatan otak namun tidak menyebabkan kelumpuhan akut. Oleh karena itu perlu diwaspadai karena gejalanya sering tidak dikenali..
Menurut dokter spesialis syaraf RS Sari Asih Ciledug, dr. Sri Purwanti, SpS, gejala stroke subklinis ini antara lain kesemutan anggota gerak (badan) sebelah atau separuh wajah, kelemahan pada mulut (cadel/pelo), gangguan penglihatan (buram) secara tiba-tiba, pusing tujuh keliling serta mulut mencong.
Kesemutan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Kebanyakan orang pernah mengalami kesemutan kala duduk bersila terlalu lama atau tertidur dengan tangan tertindih. Namun kesemutan bisa juga menjadi gejala stroke yang perlu diwaspadai. Pada gejala stroke, kesemutan yang terjadi memiliki ciri khas, yaitu terjadi hanya pada bagian tangan kanan dan kaki kiri saja atau sebelah wajah saja, maupun sebaliknya. Berbeda dengan kesemutan biasa yang akan hilang dengan sendirinya jika bagian tubuh telah berubah posisi, kesemutan pada gejala stroke tidak akan hilang meski telah berubah posisi dan akan terus berlanjut.
Bagi seseorang yang memiliki faktor resiko seperti pengidap hipertensi, jantung, kolesterol, stroke subklinis bisa terjadi lima kali lebih sering dibanding stroke berat yang selama ini dikenal. Stroke subklinis ini bisa mengantarkan seseorang ke arah stroke berat jika tidak ditangani secepatnya. Dr. Sri pun menyarankan untuk segera berkonsultasi ke rumah sakit sebelum terlambat jika mendapati gejala tersebut, karena stroke kecil akan berubah menjadi berat.
Jika pada suatu hari seseorang terkena gejala seperti itu secara tiba-tiba, ia harus mulai waspada dan segera melakukan pemeriksaan ke dokter sebagai upaya pencegahan kepada stroke yang lebih berat. Karena dengan pengobatan yang benar akan mengurangi kecacatan, bahkan menghindari kematian, saran dr. Sri.
Menurut dokter spesialis syaraf RS Sari Asih Ciledug, dr. Sri Purwanti, SpS, gejala stroke subklinis ini antara lain kesemutan anggota gerak (badan) sebelah atau separuh wajah, kelemahan pada mulut (cadel/pelo), gangguan penglihatan (buram) secara tiba-tiba, pusing tujuh keliling serta mulut mencong.
Kesemutan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Kebanyakan orang pernah mengalami kesemutan kala duduk bersila terlalu lama atau tertidur dengan tangan tertindih. Namun kesemutan bisa juga menjadi gejala stroke yang perlu diwaspadai. Pada gejala stroke, kesemutan yang terjadi memiliki ciri khas, yaitu terjadi hanya pada bagian tangan kanan dan kaki kiri saja atau sebelah wajah saja, maupun sebaliknya. Berbeda dengan kesemutan biasa yang akan hilang dengan sendirinya jika bagian tubuh telah berubah posisi, kesemutan pada gejala stroke tidak akan hilang meski telah berubah posisi dan akan terus berlanjut.
Bagi seseorang yang memiliki faktor resiko seperti pengidap hipertensi, jantung, kolesterol, stroke subklinis bisa terjadi lima kali lebih sering dibanding stroke berat yang selama ini dikenal. Stroke subklinis ini bisa mengantarkan seseorang ke arah stroke berat jika tidak ditangani secepatnya. Dr. Sri pun menyarankan untuk segera berkonsultasi ke rumah sakit sebelum terlambat jika mendapati gejala tersebut, karena stroke kecil akan berubah menjadi berat.
Jika pada suatu hari seseorang terkena gejala seperti itu secara tiba-tiba, ia harus mulai waspada dan segera melakukan pemeriksaan ke dokter sebagai upaya pencegahan kepada stroke yang lebih berat. Karena dengan pengobatan yang benar akan mengurangi kecacatan, bahkan menghindari kematian, saran dr. Sri.
Langganan:
Postingan (Atom)